News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Meluruskan Kekeliruan Mengajak Istri Jalan-Jalan Pahalanya Lebih Besar dari I’tikaf di Masjid Nabawi | Konsultasi Muslim

 


Tersebar berita di media sosial dan banyak di antara para wanita menshare tulisan yang berisi “mengajak istri jalan-jalan lebih besar pahalanya daripada i’tikaf di Masjid Nabawi”. MasyaAllah, sekilas pahala yang ditawarkan dari mengajak istri jalan-jalan sangatlah besar. Tapi benarkah berita ini?

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ، شَهْرًا

Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? dan apa amalan yang paling dicintai Allah? Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesama manusia. Adapun amalan yang paling dicintai Allah adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid Nabawi) selama satu bulan penuh. (HR. At-Thabrani, Mu’jam Al-Ausath, hadits no. 6026).

Status Hadist :

1. Syekh Ahmad Ad-Duwais rohimahullah mengomentari hadist di atas di dalam kitabnya Tanbih Al-Qori’ :

وهذا إسناد ضعيف جدًا سكين هذا اتهمه ابن حبان فقال: يروي الموضوعات. وقال البخاري: منكر الحديث. وعبد الرحمن بن قيس الضبي مثله أو شر منه قال الحافظ في التقريب: متروك كذبه أبو زرعة وغيره لكن قد جاء بإسناد خير من هذا

Sanad hadist ini sangat lemah. Sakin dicurigai oleh Ibnu Hibban, beliau berkata : Dia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Al-Bukhari berkata : Hadits ini munkar. Dan Abdur Rahman ibnu Qays Ad-Dhobi seperti dia atau lebih buruk darinya. Al-Hafiz berkata dalam At-Taqrib : Kebohongan Abu Zara'a dan yang lainnya ditinggalkan, akan tetapi dia datang dengan sanad yang lebih baik dari ini. (Tanbih Al-Qori’, jilid 1 halaman 202).

2. Syekh Al-Albani rohimahullah mengomentari hadist ini di dalam kitabnya Shahih At-Targib wa At-Tarhib :

حسن لغيره

Hadist ini Hasan Lighairihi. (Shahih At-Targib wa At-Tarhib, jilid 2 halaman 359).

Kesimpulan dari hadits di atas :

1. Hadits di atas bersifat umum dan dalam hadist ini tidak menyinggung masalah mengajak istri jalan-jalan, namun menerangkan bahwa menggembirakan seorang muslim, memenuhi keperluan seperti membayar hutangnya, meringankan bebannya dan yang lainnya.

2. Yang perlu diingat adalah titik poin dari hadits di atas adalah menyenangkan seorang muslim dengan meringannya hajatnya, inilah yang membuat amalan tersebut lebih baik daripada i’tikaf di Masjid Nabawi bukan mengajak jalan-jalan. Adapun mengajak jalan-jalan termasuk menggembirakan hati seorang muslim dan termasuk amalan yang dicintai Allah, tidak termasuk ke dalam amalan yang lebih besar pahalanya daripada i’tikaf di Masjid Nabawi, karena ada kalimat:

وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ، شَهْرًا

Dan sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid Nabawi) selama satu bulan penuh.

Ini menunjukkan kekhususan pada perbuatan yang mendapat pahala yang besar, yaitu memenuhi kebutuhan saudara sesama muslim, artinya meringankan bebannya. Inilah yang pahalanya lebih besar daripada i’tikaf di Masjid Nabawi, bukan amalan yang disebutkan di awal hadits di atas.

3. Poin jalan-jalan di sini bukan jalan-jalan yang sia-sia, namun jalan-jalan dalam rangka memenuhi hajat seorang muslim.

4. Jika para istri meyakini bahwa mengajak istri jalan-jalan mendapartkan pahala, maka itu benare, karena dalam hadits di atas ada pahala apabila menggembirakan hati seorang muslim, dan istri adalah saudara sesama muslim di dalam Islam. Tapi jika meyakini pahalanya lebih besar daripada i’tikaf di Masjid Nabawi, maka itu kurang tepat, karna ada kalimat di penghujung hadits yang mengatakan berjalan dalam rangka memenuhi kebutuhan seorang muslim, bukan hanya sekedar berjalan-jalan saja.

5. Hadits di atas menerangkan bahwa menggembirakan saudara sesama muslim itu berpahala, dan sebagai seorang muslim hendaknya membahagiakan istri terlebih dahulu dengan mengajaknya jalan-jalan atau dengan dengan cara yang lain.

Semoga bermanfaat.

Penulis: Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Posting Komentar